Di Indonesia, apa yang saya rasakan adalah pelajaran di sekolah hanya sekedar teori untuk dihapalkan, bukan diamalkan melalui perbuatan dan perkataan. Di sekolah kita diajarkan motto: Kebersihan pangkal kesehatan. Tapi ya, sebatas kata-kata indah.
Setiap hari, saya berangkat dan pulang kerja naik KRL ekonomi jurusan Jakarta-Serpong. Dan tiap pagi dan sore saya menjumpai beraneka pasangan orang tua yang berpergian bersama anaknya yang masih balita. Hal yang membuat saya jengkel adalah tiap kali mereka makan, mereka membuang sampah makanannya tersebut ke kolong kursi. Selalu seperti itu. Berharap ada pengemis yang selalu menyapu kereta agar membersihkannya.
Karena si ibu melakukan hal seperti itu, maka si anak pun menirunya: menyingkirkan sampah dari pandangan ke kolong kursi kereta. saya yakin, tidak hanya di kereta. Di mana pun mereka berada, mereka pasti menemukan tempat untuk menyembunyikan sampahnya, entah di pojokan, di kolong jembatan, di got, di kali, dan bahkan di laut.
Di agama, kita juga diajarkan kebersihan. Islam mengajarkan berwudhu sebelum sholat. Tujuan berwudhu adalah mensucikan diri. Tapi ya, karena nalar orang-orang cuma sebatas mensucikan diri, ya hanya sampai di situ kebersihannya. Padahal, bersuci dengan membasuh bagian-bagian tubuh adalah mengingatkan kita atas segala perbuatan yang dikerjakan mulut, tangan, telinga, pikiran, dan kaki kita. Apakah tadi kita sudah menyakiti lingkungan atau tidak, apakah tadi kita sudah menyakiti perasaan orang di sekitar kita karena kita telah membuang sampah sembarangan.
Ya begitulah. Bangsa kita sangat perlu pelajaran moral yang lebih serius, bukan sekedar berkutat dengan teori dan hapalan Pancasila, hapalan ayat-ayat suci dan artinya, tapi tidak tahu bagaimana mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.